Dian Sastrowardoyo Fan Site

Bazaar Wedding Ideas 2010

Posted in Majalah by Haqi Achmad on Februari 1, 2011


Dian Paramitha Sastrowardoyo
Luna Maya Sugeng
Mariana Renata

Yang mana yang menjadi favoritmu? :)

Dian Sastrowardoyo : Soap Februari 2008

Posted in Fashion, Majalah by Haqi Achmad on Juni 15, 2009

Also sprach Dian Sastrowardoyo
Well, it’s her. And her words!

Penulis ; Hermawan Kurnianto
Busana ; koleksi seluruhnya oleh Louis Vuitton
Fotografer : Raditya Arya Pratama
Pengarah gaya ; Thornandes James R
Make-up Artist & hair do ; Norma Moii
Asst. Stylist ; Hakim Satriyo
Asst. Foto ; Bona Soetirto
Lokasi ; Luxury Suite Four Season Hotel, Jakarta

Siang itu, saya duduk di dalam mobil Mercedes-Benz berwarna hitam. Di sebelah saya adalah pak sopir. Dan di belakang saya duduk seorang wanita bernama Dian. Nama lengkapnya Diandra Paramitha Sastrowardoyo. Rasanya tidak perlu lagi menjelaskan siapa wanita ini dan bagaimana parasnya, kecuali kalau Anda selama hampir satu dekade ini meninggalkan Indonesia dan sama sekali tidak mengikuti perkembangan berita selebritis di negeri ini. Well, in that case, just take a look at these pictures.

Dari audio system yang ada di mobilnya, mengalun lagu Pada Awalnya dari debut album berjudul sama milik band lokal asal Surabaya, Vox. “Lo suka Vox?” tanya saya yang merasa lega karena akhirnya menemukan satu topik untuk memecah kebekuan di dalam mobil, yaitu musik. “Iya.” Jawabnya singkat. “Kayak The Beach Boys ya?” sambung saya lagi yang merujuk pada grup power pop legendaris dari California itu. Dian kembali mengiyakan. Ia lalu meminta referensi kepada saya mengenai band-band lokal yang saya anggap bagus, kemudian saya menyebut nama-nama yang menurut saya akan menjadi the next big thing di Tanah Air, semacam The S.I.G.I.T, Santa Monica dan Efek Rumah Kaca. Percakapan tidak sempat mengalir karena Dian sibuk menerima telepon.

Kami sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran Sunda yang terletak di daerah Senopati, Jakarta Selatan. Sebelumnya, Dian menjalani sesi pemotretan yang berlangsung di sebuah kamar bertipe Luxury Suite di Four Season Hotel, Jakarta Selatan. Pemotretan yang berlangsung sekitar 2 jam itu ternyata membuat model dan aktris ini kelaparan.

Sesampainya di restoran yang dituju, Dian memesan nasi merah, 2 ayam goreng, ikan asin, tahu bacem, dan sayur asem. Ketika pesanannya datang, ia tampak menyantap makanannya dengan lahap. Obrolan ringan menyertai santap siang kami. Saya sempat tertawa kecil ketika raut mukanya menunjukkan ekspresi orang yang sedang didera rasa pedas yang hebat, yaitu merona merah dan mata yang berkaca-kaca. “Iya nih, pedas banget, tapi enak kok, segar.” Katanya sambil terus mengunyah

Usai makan, kami melanjutkan pembicaraan. Saya menanyakan soal kamera lomo yang dibawanya saat itu. “Waktu itu di Aksara kan ada kompetisi lomo. Pas gue lihat, ternyata gak terlalu mahal. Gue beli saat itu juga, kebetulan gue lagi ada uang,” ujarnya. Ia kini telah memiliki kamera lomo Holga, Fish Eye, dan Diana + yang diletakkannya di atas meja tempat kami makan. “Gue gak mau jadi fotografer sih, cuma gue pengen punya media yang banyak untuk bisa express my feelings. Kalau cuma membatasi ke akting doang, akhirnya gue bisa terjebak,” kata Dian yang terlihat santai dengan t-shirt putih dan legging hitam

“Gue sadar bahwa at the end of the day, it’s not about lo tuh siapa, apakah lo seorang aktor atau lo seorang fotografer, tapi apa yang mau lo sampaikan? Lo mau menyampaikan inspirasi lo dari dunia dan hidup, dan itu ditularin, bisa lewat lomo misalnya,” Sejenak pembicaraan terpotong karena adanya salah seorang pelayan pria yang ingin berfoto bareng dengannya, “Boleh, tapi nanti ya, aku lagi ngobrol, nanti aja pas udah mau pulang ya,” tolak Dian secara halus kepada pelayan tersebut.

Berbicara dengan Dian, tidak mungkin bila tidak menyinggung soal film yang telah membesarkan namanya. Ia sedang merencanakan untuk memproduksi 3 film. “Tanpa gue sadari, gue bersama tim gue menjalankan pekerjaan sebagai produser,” katanya. “Belum ada yang bisa diceritain sih sebenernya, masih dalam proses.”

Aktris yang resume kariernya di perfilman meliputi Bintang Jatuh, Pasir Berbisik, Ada Apa Dengan Cinta, Banyu Biru, Ungu Violet dan Belahan Jiwa ini juga aktif sebagai anggota Masyarakat Film Indonesia (MFI), sebuah organisasi yang memperjuangkan reformasi terhadap kebijakan yang mengatur hal-hal yang terkait dengan perfilman di Tanah Air, diantaranya soal sensor. “Apa yang sensor lakukan terhadap film kita pada saat mereka memotong adalah sesuatu yang memaksa, karena prosesnya searah, gak ada tuh yang namanya diskusi atau dialog mengenai film yang ingin disampaikan. LSF (Lembaga Sensor Film) itu memotong dengan argumen bahwa mereka melindungi moral bangsa karena mereka bilang, kalau tidak dipotong, bangsa Indonesia yang belum dewasa itu ada yang bisa jadi pemerkosa, ada yang bisa jadi pembunuh, dan sebagainya,” ujarnya tanpa bisa menutupi rasa gundahnya.

“Yang gue sebal adalah MFI itu dianggap pro sadisme dan pro seks, kesannya MFI itu anak-anak bejat. Sekarang gini, gue gak setuju dengan policy sensor, tapi bukan berarti gue pengen bikin film porno. Tapi buatlah satu badan klasifikasi yang lebih menghargai hak-hak asasi manusia. Dengan adanya klasifikasi, kita jadi lebih menjaga anak-anak, karena semua anggota masyarakat akan lebih punya andil. Dan juga kita akan lebih menghargai hak-haknya orang dewasa yang sudah boleh mengetahui informasi secara utuh, misalnya mengenai ketimpangan jender dalam tempat tidur,” tutur wanita kelahiran 16 Maret 1982 ini dengan semangat

“Lo harus tahu, setiap kali film itu dipotong, si produser harus bayar sesuai dengan panjang yang dipotong, ada tarif per milimeternya. Jadi semakin banyak LSF itu motong, semakin banyak mereka dapat duit. Can you see?” ungkapnya dengan nada geram

Dian terlihat sumringah ketika diajak berbincang soal kehidupan cintanya. Bukan lantaran ia mendapatkan kekasih baru, namun justru karena kesendirian yang dijalaninya sekarang ini. Ia malah mengaku sedang memendam kekecewaan terhadap pria. “Gue punya premis baru dalam hidup gue bahwa pria itu punya kapasitas berpikir yang jauh di bawah perempuan. Tidak hanya sampai di situ saja, kapasitas yang sangat kecil itu hanya digunakan untuk dirinya sendiri,” ucapnya. “Gue baru menemukan dalam kehidupan gue, satu keadaan yang benar-benar langsung membuka mata gue tentang hal ini.”

Pemikiran yang semata-mata sifatnya emosional?

“Gak tahu. Bisa jadi pemikiran emosional doang, sampai akhirnya ada suatu kejadian yang membukakan mata gue bahwa ternyata men are not that bad, ada bagusnya juga. Tapi sekarang sih gue belum sampai ke turning point itu,” ujar sarjana filsafat ini. Menurutnya, saat ini ia membutuhkan pria hanya sebatas sebagai teman. “Gue memanfaatkan mereka untuk menyerap ilmu mereka dan juga sebagai teman diskusi.”

Dian terus berceloteh panjang lebar. “Cewek itu perlu merasa lengkap hanya dengan dirinya sendiri. Begitu juga cowok, harus merasa lengkap dan happy dengan dirinya sendiri. Kalau cowok merasa gak lengkap, dia akhirnya nyari cewek untuk membahagiakan dirinya, which is tolol menurut gue. Jadi, kayaknya gue baru bisa berubah pemikirannya, kalau gue sudah nemuin cowok yang udah sangat happy dengan dirinya sendiri, take care of himself, love himself, dan dia juga punya sense of respect terhadap dirinya sendiri yang cukup, sehingga dia bisa mencintai seorang cewek yang juga utuh dan lengkap dengan baik. Cuma menurut gue sampai sekarang hal itu masih platonis. Gue belum menemukan sosok cowok yang sangat lengkap dan sangat happy dengan dirinya sendiri.”
Anyone?

Dian Sastrowardoyo : Harper’s Bazaar Indonesia

Posted in Fashion, Majalah by Haqi Achmad on Mei 26, 2009

Jenjang Hidup Dian Sastro
Tentang popularitas, komoditas, dan totalitasnya yang terus berproses

Nama Dian Sastro yang besar?
Menjadi bintang itu tidak pernah ada dalam pikiran saya

Bukankah sempat mengikuti pemilihan sampul majalah?
Saat mengikuti Gadis Sampul tahun 1996 itu supaya dapat kesempatan iklan. Honornya untuk membiayai diri sendiri dan sekolah di Boston. Saat itu saya dengar Tracy Trinita sempat mendapat kontrak Benetton dengan nilai ekivalen 50.000 dolar AS. Nilai kontrak saat itu dapat membiayai kuliah S1 termasuk biaya hidup sekitar 4 tahun (sekarang kan udah enggak bisa). Akhirnya masuk Gadis Sampul dan mulai mendapat iklan kemudian berkembang, hingga akhirnya tahun 1999, saya sudah tidak terlalu ambisius dan mulai menghadapi kenyataan bahwa saya hanya akan sekolah di sini.  Akhirnya masuk Universitas Indonesia dan mulai menelusuri ketertarikan terhadap seni dan sastra

Bukan karena ingin dicitrakan sebagai artis yang sok intelek?
Enggaaaaak, keluarga saya itu kental sekali pengaruh sastra dan seninya. Ayah kuliah di Sastra Cina dan ibu dari Sastra Inggris. Semua keluarga tidak ada yang menjadi artis, kok. Sekarang ini saya mau lebih jujur sama diri sendiri. Bahwa sebenarnya saya tidak terlalu suka dunia keartisan. Akhirnya kita menjadi komoditas dan berbicara dalam bahasa bisnis. Kalau saya membiarkan diri menjadi komoditi, kadang-kadang saya jadi tidak fair terhadap diri sendiri

Bukan ketidaksengajaan jadi bintang membuka jalan jadi film-makers?
Saya percaya bahwa saya berkembang secara keseluruhan. Sebagai seorang manusia yang berkembang. Bukan seorang aktris yang berkembang. Kadang kalau terlalu lekat menempelkan suatu label, kita hanya memperbolehkan diri kita berkembang di bidang itu saja. Sementara, saya suka menulis, film, suka bekerja dan suka macam-macam. Banyak sekali yang ingin saya raih dan merasa punya banyak celah dan potensi untuk berkembang. Dan saya sedang memberanikan diri keluar dari zona yang sudah saya selami selama 10 tahun terakhir, dengan mencoba bidang baru yaitu bisnis. Kebetulan masuknya melalui pintu perusahaan konsultan

Apa ini sebabnya menjadi karyawan?

Saya merasa beruntung sekali. Saya mau mencoba sesuatu yang benar-benar baru, belajar dari nol, jadi pemula. Siapa tau, 10 tahun lagi saya bisa jadi seseorang yang diperhitungkan secara profesional. Dan saya tidak takut memikirkan sesuatu seekstrim itu atau katakan pindah karier sepenuhnya

Kalau terjun ke politik?
Ogaaaahhh, enggak suka

Anda total di segala hal, termasuk menjalin hubungan?
Hahaha, iya. Saya memang enggak pernah main-main

Dian Sastrowardoyo ; LV Hongkong

Posted in Fashion by Haqi Achmad on Mei 18, 2009

Dian Sastrowardoyo : Indonesia Tatler Juni 2009

Posted in Majalah by Haqi Achmad on Mei 11, 2009

Someone who is blessed with a beautiful face and a pleasing personality to match, Dian Sastrowardoyo is truly one star to watch out for. Maria Zarah R Gregorio writes.

Success and longevity is something that everyone aspires for in show business. Regardless of the many new faces that are introduced everyday, the public can still spot those few who are indeed talented and worthy of the spotlight. Dian Sastrowardoyo leads this pack of remarkably adept individuals. Though only in her late-20s, Dian has captivated the Indonesian movie and TV industry through her memorable work in one of the country’s most well-loved films such as ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ as well as the TV serial, ‘Dunia Tanpa Koma.’ More recently, the lady with a lively personality took part in two quality films opposite Nicholas Saputra, “We recently worked on ‘3 Doa, 3 Cinta,’ as well as ‘Drupadi,’ directed by Riri Riza. It is a film about Drupadi, a princess from Panchala who was treated as fair game in the Mahabharata,” elucidates Dian during the photo shoot at Moreno Studio in Kemang. What sets the film ‘Drupadi’ apart from Dian’s other projects, is that for the first time she also takes the helm of producer, a decision that cements her relevance in the movie industry even further. With her manager, Wisnu Darmawan and noted producer, Mira Lesmana, Dian spearheaded the movie and saw it from the planning stages, to its fruition.

“It was a fulfilling experience to be so involved in the film, from pre-production, to acting in it, to marketing it and now looking for sponsors to invest in the movie. As we have wrapped the production, we are currently busy with registering the film for international film festivals abroad,” the actress states, showing the great belief and support she has for the film.

Asked how she was able to juggle her multiple tasks, she says, “I have to admit that I had to set the producing aside to focus on acting, because acting takes up a lot of time and emotion. This project was quite challenging for me because we collaborated with a theatre group from Yogyakarta, who act with their bodies and use contemporary form of theatre and art.” After working on the epic story on location in Yogyakarta, Dian has settled into a more relaxed routine, “Right now I am enjoying the free time I have. I am spending time with my girlfriends, people I’ve known since high school. They really make my day! It’s funny because when you work on a movie, you borrow yourself, take yourself out of your life and put yourself into character. You get to work with different people, and you have to adapt. At the same time, the good thing is you learn a lot of things from the people you work with while on location. You take the lessons you’ve learned and apply them to your life. Now I have just gotten back to my own life, and I am loving it!”

With plans to further develop her production company, Dian is preparing herself for future projects, “I must say that now, I just want to relax and enjoy. But I am also gearing myself up to learn more about producing and perhaps, finding out more about business, and how to manage this business we founded. I’m even thinking of taking some time off work to pursue business studies. In hind sight, I have always seen myself as someone who likes to explore – I see myself maybe going into the food and beverage industry or perhaps going into consulting. There are plenty of other ventures that I can dabble in. The possibilities are endless,” Dian expresses her entrepreneurial spirit, along with the positive charm that she is known for.

Dian Sastrowardoyo ; Behind The Scene Iklan Natur E

Posted in Iklan by Haqi Achmad on Mei 4, 2009

Behind The Scene dari iklan Natur E yang memasang Mbak Dian sebagai spoke person-nya. Di iklan ini Mbak Di tampil dengan Mentari Egan. Cantik? Pasti dong!

Foto : Jakarfruit Jakis (Facebook)

Dian Sastrowardoyo ; Lux

Posted in Lux by Haqi Achmad on Mei 2, 2009

Kampanye Lux ; Less Is More

Kejarlah Daku, Kau Kutangkap #17 : Dian Sastrowardoyo

Posted in Majalah by Haqi Achmad on Mei 2, 2009

Dian Sastrowardoyo
“…….organ tercantik dan terseksi yang ada di manusia itu adalah otak………”

Siapa tak kenal Dian Sastrowardoyo? Yang gak tau, hayoo tunjuk tangan dan angkat kaki dari muka bumi! Sekarang aja wajah cantiknya bisa lo liat segede-gedenya di senayan untuk dua produk yang berbeda! Tapi, segede-gedenya muka dia di mana-mana, lo gak bakal lupa sama peran legendaris dia di film AADC. Yess..she is the legendary Cinta. Gara-gara tuh peran, sebuah buku klasik berjudul ‘Aku’ jadi diproduksi lagi, lagi dan lagi. Ah, walaupun banyak Cinta yang bermunculan sekarang-sekarang ini, bagi kami Dian adalah The First, The Real, and The One and Only Cinta Ever!

Enak gak jadi orang ‘sebesar’ elo?
Aduuuuh.. tidaak, sayaaaang.. pertama kali malah gue sempet stress gara-gara orang-orang jadi kenal gue. Rasanya kayak pengen lari dari Indonesia aja. Ya..jadi kayak misalnya gue keluar cuma mau beli permen, tapi gue bakalan lama disitu karena ada orang yang yang minta foto bareng, tanda tangan, ato bahkan nyapa dengan gue sok akrab. Padahal gue ga kenal mereka sama sekali. Dan gue ngerasa itu aneh aja..Tapi sampe suatu ketika gue ketemu anak jalan dan foto bareng sama dia. Ternyata dengan gue sekedar foto ama dia, itu bisa ngebuat dia semangat..dan itu buat gue berpikir kalo gue ternyata seneng juga bisa nyenengin orang kaya gitu. Gila yah, hanya say hello atau kasih senyum aja, untuk beberapa anak, ternyata itu cukup merubah cara mereka melihat diri mereka sendiri. Gue paling seneng kalo anak-anak tuh punya self respect yang tinggi terhadap diri mereka sendiri (kalo bahasa kasarnya narsis, bahasa lembutnya percaya diri). Karena percaya gak percaya, hal itu loh yang bikin mereka maju.

Emang cita-cita lo apa sih sebenernya?
Jadi orang kantoran, hehehe. Awalnya gue sempet mikir bakalan ngejalanin ini semua cuma 5 tahun aja, abis itu pensiun. Karena gue ngerasa pekerjaan ini bisa bikin orang jadi autis. Bayangin aja lo ga punya waktu ngumpul bareng keluarga, ato temen-temen, gara-gara pas weekend harus kerja. Kan kalo orang kantoran jam kerjanya pasti.

Punya tokoh idola gak?
QUEEN RANIA OF JORDAN! Dia tuh orangnya inspiratif banget, dan quote yang gue suka dari dia adalah ”To educate women is to educate future”. Karena yang ngelahirin anak-anak sampai kapan pun kan kaum perempuan, jadi generasi depan alias the future tuh sebenarnya di tangan kaum perempuannya. Kalo mereka educated dan berdaya, pasti generasi depan juga makin canggih lagi. Kalo kayak sekarang: dimana perempuan banyak yang tertindas oleh domestik violence dan stigma sosial (yang memungkinkan perempuan jadi terhambat pengembangan dirinya), generasi yang akan datang gak akan bisa diharepin banyak perubahannya, mau anggaran pendidikan digedein kayak apapun, dan kurikulum dicanggihin. Support anak terbesar tuh di rumah, dari ibu.

Education dan Future….hmm punya visi dan misi ke depannya untuk merealisasikan hal tersebut?
Visi misi?? Gak tau deh, yang pasti, gue sendiri sebagai perempuan akan mulai dari diri gue. Walaupun nantinya gue akan jadi ibu rumah tangga, gue akan belajar setinggi-tingginya supaya nanti gue bisa jadi mentor yang canggih buat anak2 gue. Yang pasti gue bakalan agak rese dan galak sih heheh…

Kalo quote favorit dirimu apa?
“You are what you love, Charlie, not who loves you” dari film Adaptation Charlie Kauffman

Hmm you are what you love…. What do you love actually?
I Love art, books, films. I love everything that reminds me that : hal paling indah pada manusia adalah emosinya.

Sesuai tema provoke! kali ini, hal tergengsi apa yang pernah lo lakuin?
Gue sebenarnya gak terlalu suka ngelakuin sesuatu berdasarkan gengsi. Karena bagi gue kayaknya repot amat sih loe ngelakuin sesuatu yang gak terlalu loe suka, demi gengsi. Atau sebaliknya, loe jadi harus menahan diri sekuat mungkin untuk tidak melakukan sesuatu demi gengsi. Contohnya: loe bertahan sekuat tenaga gak nelfon pacar loe karena gengsi, karena lagi marahan. Menurut gue itu agak capek aja. Tapi kalo gue udah males banget sama ulah pacar gue yang kebanyakan gengsi, gue biasanya saklek. “benerr…?? gak mau telfonan?? Yakinnn??” “ya wes.., gue gak akan pengen nelfon atau ketemu selama jangka waktu yang ditentukan.

Rencana untuk ke depan apa?
Gue mau lanjut S2, sekolah film, nyelesein buku, bisnis, sekolah fotografi dan tentunya lebih banyak berkarya.. dan satu lagi…bikin film pendek, bikin film dokumenter, kursus sinematografi, nulis novel, belajar dansa tango, les nari jawa, les tari perut, les nyanyi India (yang nadanya tinggi-tinggi gitu). Menyusun ‘repelita Dian’ untuk jangka waktu kedepan.

Banyaak ya! Dari semua bidang seni yang lo tekuni, apa yang paling seru?
Semuanya selama mampu menularkan’emosi’ semuanya seru. Pokoknya gue suka sesuatu yang bisa mengantarkan ‘emosi’ kepada pengamatnya. Gue fanatik Leo Tolstoy soalnya.

Terakhir nih, emang definisi cantik menurut seorang Dian Sastro itu kayak gimana sih?
Menurut temen gue, organ tercantik dan terseksi yang ada di manusia itu adalah otak. Menurut gue, penyataan itu keren bgt! Mau siapapun lo, ato gimana pun lo, kalo lo punya otak yang sexy, brilian, dan kreatif, lo pasti cantik! Misalnya kayak Sesa, dia kreatif banget, idenya gila, dan karena itu dia selalu keliatan charming. (Love you Ses..!!! Muah)

The 10 questions..

1.One thing in this world you are addicted to?
Jalan kayak bebek, dark chocolate dan mie instan.

2. Tiga penemuan paling jenius yang ada di muka bumi?
Kaca,Wi Fi, Internet

3. Apa yang bikin lo bosen?
Dengerin pembicaraan yang gak logis.

4. Ketika sesuatu gak berjalan sesuai yang lo harap, kata-kata apa yang lo bilang ke diri lo sendiri?
Yaudahlah, toh masih ada yang lain.

5. Tiga hal yang pengen lo lakukan sebelum meninggal?
Pergi ke Irian, tinggal di Tibet 3 bulan, berenang sama beluga whale atau kalo gak dolphin lah.

6. What city best describes your personality?
Tibet, Karena warna warni, spiritual, abstrak, rame dll.

7. What makes you feel like a child again?
Saat gue inget semua yang udah dikasih Tuhan ke gue.. Nonton film kartun, baca buku dongeng, nonton film the Fall, heheheh main sama hewan peliharaan!!

8. Keputusan ternekad yang pernah lo ambil?
Keluar dari FHUI

9. What makes you happy?
Dark Chocolate, karaoke nyanyiin lagunya Cindy Lauper ”Girls just wanna have fun”.

10. Fill in the blank! I will never____ again.
Ngasih microphone ke ibu-ibu yang panik (sumpah acara bisa ancur)

Dian Sastrowardoyo di Nanjing

Posted in Uncategorized by Haqi Achmad on Mei 2, 2009

Foto ini diambil dari majalah Dewi, kalau tidak salah terbitan Februari di tahun lalu
Pemotretannya berlokasi di Nanjing, China. Dian Sastrowardoyo mengenakan pakaian rancangan desainer Edward Hutabarat

Majalah Sekar

Posted in Majalah by Haqi Achmad on Mei 2, 2009

Nama Diandra Paramitha Sastrowardoyo mulai diperhitungkan sejak film Ada Apa Dengan Cinta (2002) sukses besar. Sebelumnya, juara Gadis Sampul 1996 itu juga pernah mendapatkan penghargaan Pemeran Pembantu Wanita Terbaik di Festival Film Asia Pasifik, lewat film Pasir Berbisik (2001)

Saat ini Sarjana Filsafat Universitas Indonesia ini sedang menikmati dunianya. “Sekarang aku bisa bernafas lega, karena Drupadi sudah tayang,” ujar kelahiran Jakarta, 16 Maret 1982 ini sambil tersenyum

DRUPADI
Drupadi, film terbaru Dian, diangkat dari cerita Mahabharata yang bercerita tentang Drupadi, isteri dari lima bersaudara Pandawa. Tragedi dimulai saat Pandawa diundang bermain dadu oleh Kurawa. Yudhistira, si sulung Pandawa, akhirnya jatuh dalam kekalahan. Saat tak ada lagi yang tersisa, akhirnya ia mempertaruhkan Drupadi. Namun, Drupadi tidak rela menjadi taruhan. Ia menggugat dan mempertanyakan bagaimana dirinya bisa dipertaruhkan oleh Yudhistira yang sudah kalah dan tidak mempunyai hak atas dirinya lagi. Ia menggugat perlakuan Kurawa terhadap dirinya. Film ini tidak hanya bercerita tentang kisah Drupadi, tapi dalam kehidupan modern menjadi sebuah simbol sebuah perjuangan perempuan melawan ketidakadilan

“Kenapa film ini dibuat dan apa yang menarik dari Drupadi adalah karena daya kritis dan kemampuannya berargumentasi, melawan dan bertanya. Ia satu-satunya perempuan dari seluruh jagad pewayangan yang berani seeperti itu. Sebetulnya tokoh yang menyebakan pecahnya perang Bharatayudha itu adalah Drupadi,” jelas Dian yang menyukai kisah wayang sejak kecil.

“Drupadi adalah tokoh yang sangat kritis. Perempuan yang paling pintar dan pemberani,” tambah Dian tentang tokoh yang diperankannya dalam film kesepuluhnya ini

Dian mengakui, keselitan yang dihadapinya ketika memerankan Drupadi adalah saat ia harus bisa mengekspresikan kemarahan Drupadi dengan semua latar belakang di jaman itu

“Karena mungkin aku tidak punya keberanian seperti Drupadi. Tapi setelah main di film ini, aku jadi belajar bahwa kita sebagai perempuan harus lebih bisa mengekspreksikan apa yang ada di pikiran kita. Cerita ini merupakan refleksi buat semua perempuan, termasuk aku,” kata bintang Lux ini

Drupadi berhasil masuk dan akan ditayangkan di Hongkong Film Festival kategori spesial screening pada awal April 2009

SAAT INI
Tahun lalu, Dian sempat menjadi asisten dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. “Aku menikmati sekali saat-saat menjadi dosen,” katanya
Dalam 10 tahun ke depan, putri tunggal pasangan (alm) Ariawan Sastrowardoyo dan Dewi Parwati Setyorini ini membayangkan dirinya menjadi seorang wanita karier yang sukses. Sudah lulus S2 dan mempunyai bisnis sendiri yang berkenaan dengan perusahaan tempatnya bekerja.
“Semoga juga sudah menikah dan punya anak,” tambahnya
Tapi untuk sekarang, bukan masalah jodoh yang ditakuti brand ambassador L’Oreal dan bintang iklan Natur E in. Ia justru lebih takut kehilangan ‘api’ yang ada dalam pikirannya
“Aku takut kehilangan api yang ada di pikiranku. Seperti api di mata harimau-harimau penghuni alam bebas. Bukan harimau-harimau di kebun binatang, yang matanya meredup, seperti sudah tidak ada alasan lagi untuk hidup. Aku takut banget kehilangan api itu. Karena api itu yang membuatku seperti sekarang,” tutup Dian berfilosofi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.